Setelah Perang Dunia Kedua berakhir pada tahun 1945, kota Reggio Emilia di Italia Utara dihadapkan pada tantangan besar untuk membangun kembali masyarakatnya. Loris Malaguzzi, seorang pendidik visioner muda, bertemu dengan ibu-ibu dari komunitas lokal yang sangat termotivasi untuk mendirikan sekolah bagi anak-anak mereka. Pertemuan ini menjadi awal dari sebuah gerakan pendidikan yang akan mengubah cara dunia memandang perkembangan anak kecil.
Dalam buku The Hundred Languages of Children karya Edwards, Gandini, dan Forman, dijelaskan bahwa visi awal Malaguzzi adalah menciptakan sekolah yang tidak hanya memenuhi kebutuhan praktis keluarga, tetapi juga menghormati potensi penuh setiap anak. Dia percaya bahwa anak-anak bukan botol kosong yang perlu diisi pengetahuan, melainkan individu yang aktif, penasaran, dan mampu membangun pemahaman mereka sendiri melalui eksplorasi.
Filosofi Reggio Emilia dibangun atas tiga pilar utama: pandangan positif tentang anak, pentingnya lingkungan fisik, dan peran komunitas dalam pendidikan. Malaguzzi mengamati bahwa ketika anak-anak diberi kesempatan untuk mengeksplorasi, bertanya, dan bereksperimen, mereka menunjukkan kapasitas belajar yang jauh melampaui ekspektasi tradisional.
Pada tahun 1950-an dan 1960-an, metode dokumentasi visual mulai berkembang di sekolah-sekolah Reggio Emilia. Malaguzzi menyadari bahwa fotografi, catatan anekdot, dan pameran pekerjaan anak dapat menceritakan kisah pembelajaran yang kaya dan kompleks. Dokumentasi ini bukan hanya untuk orang tua, tetapi juga menjadi alat refleksi bagi para pendidik untuk memahami proses berpikir anak.
Dalam konteks Italia yang masih berkembang pascaperang, pendekatan Reggio Emilia menghadirkan inovasi yang radikal untuk masanya. Sekolah-sekolah ini menggabungkan seni, musik, gerak, dan bahasa dalam program terintegrasi yang mencerminkan cara anak benar-benar belajar—melalui bermain dan eksplorasi bermakna.
Istilah "seratus bahasa" diciptakan Malaguzzi sebagai metafora kuat tentang berbagai cara anak mengekspresikan pemahaman mereka. Ini mencakup bahasa verbal, musik, gerakan tubuh, seni visual, dan bentuk-bentuk komunikasi lainnya yang seringkali diabaikan dalam pendidikan konvensional.
Pengaruh Reggio Emilia menyebar ke seluruh Eropa, Amerika, dan akhirnya ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Para pendidik diundang untuk mengunjungi kota Reggio Emilia, melihat langsung bagaimana anak-anak belajar dalam lingkungan yang dirancang dengan cermat dan dipandu oleh filosofi yang jelas.
Penelitian ilmuwan seperti Carlina Rinaldi, yang meneruskan warisan Malaguzzi, menunjukkan bahwa pendekatan ini menghasilkan anak-anak yang lebih percaya diri, kreatif, dan mampu memecahkan masalah. Anak-anak Reggio tidak hanya menguasai akademik, tetapi juga mengembangkan disposisi belajar yang kuat untuk seumur hidup.
Hingga hari ini, meskipun Loris Malaguzzi telah meninggal pada tahun 1994, warisan dan filosofinya terus hidup. Sekolah-sekolah Reggio Emilia di Italia tetap menjadi pusat pembelajaran dan penelitian, sambil metode ini telah diadaptasi di berbagai konteks budaya, termasuk Indonesia yang kaya dengan warisan pendidikan tradisionalnya sendiri.